Jakarta – Emiten perdagangan alat pengangkutan komersial, PT Intan Baru Prana Tbk (IBFN), menunjukkan sinyal kebangkitan yang kuat pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025. Melalui transformasi model bisnis yang fokus pada layanan penyewaan (rental), perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang eksponensial.
Lonjakan Pendapatan dan Efek Kemitraan Raksasa
Berdasarkan data terbaru per September 2025, IBFN membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 143,79 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan fantastis sebesar 807% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp 15,85 miliar.
Direktur Utama IBFN, Petrus Halim, mengungkapkan bahwa kunci utama pertumbuhan ini adalah keberhasilan perseroan menjalin kemitraan strategis dengan pemain besar di sektor pertambangan dan energi, yaitu:
PT Petrosea Tbk (PTRO)
PT Darma Henwa Tbk (DEWA)
PT Mitra Stania Prima
Ekspansi Armada: Pembelian 20 Unit Alat Berat Baru
Tidak hanya sekadar mencatat kontrak, IBFN juga memperkuat kapasitas operasionalnya. Perseroan melaporkan kenaikan total aset sebesar 24% menjadi Rp 500,35 miliar. Kenaikan ini didorong oleh langkah berani manajemen yang menambah 20 unit alat berat baru melalui skema cicilan untuk mendukung permintaan tinggi di sektor rental.
Langkah ini sejalan dengan tren pasar di mana para kontraktor kini lebih memilih skema sewa (rental) guna menjaga fleksibilitas keuangan dan efisiensi belanja modal (CAPEX).
Diversifikasi Sektor di Luar Pertambangan
Meskipun sektor tambang di Kalimantan masih menjadi kontributor utama, IBFN kini mulai memperluas jangkauan ke sektor potensial lainnya, di antaranya:
Infrastruktur Nasional: Proyek pembangunan jalan, jembatan, dan bendungan.
Agribisnis: Penyediaan alat pengangkutan untuk sektor perkebunan.
Digitalisasi: Pengembangan platform penyewaan untuk mempermudah akses pasar yang lebih luas.
Analisis Keuangan: Rugi Menyusut di Tengah Ekuitas Negatif
Meski dari sisi top-line (pendapatan) tumbuh luar biasa, IBFN masih memiliki pekerjaan rumah di sisi bottom-line. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp 30,63 miliar per Kuartal III 2025. Namun, angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan rugi tahun lalu yang mencapai Rp 77,89 miliar.
Manajemen juga secara transparan mengakui tantangan pada neraca keuangan, di mana ekuitas perseroan masih tercatat negatif Rp 763,06 miliar. Peningkatan liabilitas sebesar 12% menjadi Rp 1,26 triliun juga menjadi fokus manajemen dalam upaya penataan kembali struktur modal secara bertahap.
Tantangan dan Risiko Industri
Manajemen IBFN tetap waspada terhadap beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi kinerja di masa depan, seperti:
Persaingan Ketat: Persaingan harga dengan pemain rental skala besar.
Tenaga Ahli: Kebutuhan akan teknisi handal untuk menjaga kondisi unit.
Risiko Pembayaran: Potensi keterlambatan pembayaran dari pelanggan di tengah fluktuasi ekonomi.